Wiley57wiley's website

Our website

30
Ja
Arti Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam
30.01.2017 05:50


Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: mengabung. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan ini. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada pun yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang terdapat pada oknum si bayi ketika ia keluar daripada rahim ibu, rambut itu disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 upaya untuk bocah laki-laki serta 1 upaya untuk bayi perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak balita tergadaikan beserta aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan momongan perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berkata: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, oleh sebab itu sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua gangguan darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Daripada ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber ‘aqiqah untuk Laksmi dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi sebutan dan menyabdakan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, pada AI-Mustadrak surah 4, hal. 264]

Tanda: Hasan & Husain merupakan cucu Rasulullah saw SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Laksmi, dia berkata: Rasulullah berfirman: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada manusia miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih di hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua puluh satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Norma Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama ulung fiqih (fuqaha).

domba aqiqah bandung Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya telau (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Sidang: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun tidak bersifat tentu, karena siap sabdanya yang memalingkan atas kewajiban yaitu: “Barangsiapa diantara kalian terselip yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Duli Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan dalil yang memalingkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu laksana layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh dalam aqiqah tersebut hewan yang picak, kurus, patah tulang, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam hewan aqiqah tersebut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan di qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami di masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan mengotori kepalanya beserta darah kambing itu. Dipastikan setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, memotong (menggundul) kepala si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud bagian 3, hal. 107]

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di dalam masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang balita, mereka mengotori kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu begitu mencukur rambut si bayi mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berfirman, “Gantilah darah itu beserta minyak wangi”.[HR. Pelerai demam Hibban beserta tartib Pelerai demam Balban perkara 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah pikir kesepakatan para ulama ialah hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Rasul SAW berkata, “Seorang bani terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka dalam hari ke-21 atau manakala saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) bagi dasar permintaan, maka sekiranya menyembelih di hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah pas. Karena kepercayaan ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan mengalutkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan tidak menghendaki ketegangan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini bertolak pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan kalau tidak siap melaksanakannya pada hari ketujuh, maka siap dilaksanakan saat hari ke empat belas, dan apabila tidak sanggup, maka pada hari di dua persepuluhan satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah atas ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih di dalam hari ketujuh, ke 4 belas, & ke 2 puluh mono. ” (Hadits hasan tambo Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga minggu masih tidak mampu jadi kapan saja pelaksanaannya pada kala sudah mampu, karena pelaksanaan di hari-hari ke tujuh, ke empat belas kasihan dan ke dua puluh satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. Dan boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Balita yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun bocah yang miskram[cak] dengan tata sudah berusia empat kalendar di dalam kandungan ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si budak. Namun kalau seseorang yang belum pada sembelihkan satwa aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, jadi dia sanggup menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jikalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri maka hal tersebut tidak apa-apa menurut hamba, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika bukan bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas kasihan. Dan jika gak bisa pula, maka saat hari kedua puluh satu. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi pikulan ayah.

Tapi demikian, bila ternyata tatkala kecil ia belum diaqiqahi, ia mampu melakukan aqiqah sendiri pada saat dewasa. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menjawab, “Menurutku, bila ia belum diaqiqahi pada kecil, jadi lebih cantik melakukannya sendiri saat kuat. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal ialah satu kontrol baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sesuai perkataan Ibnu Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan & Husain mono domba satu domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kita harus pulih bahwa Lembut dan Husain adalah anak kembar. Menjadi pada wahid kelahiran tersebut disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih superior adalah dua ekor untuk anak laki-laki serta 1 kontrol untuk budak perempuan berlandaskan hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki dua ekor domba dan atas anak dara satu kontrol. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor kambing yang selevel dan dari anak perempuan satu termuda. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang bani

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama serta mencukur serat (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir saat hari Mono-, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor wedus sedang untuk anak perempuan 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan kepada orang tua si anak, tapi boleh juga dilakukan per keluarga yang lain (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah ini hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Bagus Mentah Atau Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor wedus untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah diberikan kepada tetangga dan gelandangan miskin pula bisa diberikan kepada sosok non-muslim. Bahkan jika hal itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya serta dalam rancangan dakwah. Dalilnya adalah tutur Allah, “Mereka memberi menjarah orang melarat, anak yatim, dan tawanan, dengan sanubari senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada saat itu adalah orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga pun boleh menandaskan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa menghitung apakah lelaki atau puan, sebagaimana babad di pangkal ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia pernah bertanya lawan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka petuah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan untuk anak perempuan satu sudut kambing. Tidak menyusahkanmu elok kambing tersebut jantan sekalipun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum memperoleh dalil yang lain yang menunjukkan adanya binatang selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Rasul SAW bertolak pada dalil yang shahih yakni pada hari ke-7 dari kelahiran bani tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Adapun dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, serta mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat dan tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada umat islam, dan larat mengundang sohib-sohib dan macam untuk menyantapnya, atau larat juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Ibnu Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya & memasaknya lantas mengundang manusia yang engkau lihat sedang diundang atas kalangan moyang, tetangga, sohib-sohib seiman dan sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, dan hal seperti dikatakan oleh Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi kalau ada signifikansi antara maksud sebuah seri dengan yang diberi identitas. Hal itu ditunjukan secara adanya sekitar nash syari yang menyatakan hal tersebut.

Dari Bubuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam pamor berkaitan dengannya sehingga seakan-akan makna-makna itu diambil darinya dan seumpama nama-nama tersebut diambil mulai makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui imbas nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang terhadap Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku menjawab: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib berkata: “Orang itu senantiasa bertingkah laku keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang bagus untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban orang tua. Di antara nama-nama yang bagus yang ranggi diberikan ialah nama rasul penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Atas Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan kelompok:

Memberi Sebutan Bayi / Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Menjatuhkan rambut adalah anjuran Nabi yang benar baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan kalau Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menyampaikan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan argentum seberat rambut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut kudu dilakukan secara rata; tidak boleh hanya mencukur beberapa kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak serat yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar juga sedekahnya.

Doa Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Berarti: Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad & keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk keturunan ini secara kalimat Tuhan Yang Siap dari segala gangguan syaitan dan seloroh binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat jorok bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari segi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs memiliki beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA tatkala Yang mahakuasa SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Dalam aqiqah ini mengandung unsur perlindungan atas syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir itu, dan itu sesuai beserta makna hadits, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih tersembunyi dari gelaran syaithan yang sering memegang anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sebab Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak dalam hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengeluarkan: “Dia tergadai dari menyampaikan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) lawan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud mencicip syukur untuk karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya si anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menimbulkan rasa semarak dalam melakukan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menasihati ukhuwah (persaudaraan) diantara warga.

Dan tetap banyak lagi hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Butala al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free website powered by Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!